"Banyak negara tertarik menayangkannya," katanya. Tak heran, jaringan distribusi film ini mencakup kawasan Asia Tenggara, Amerika Utara, Eropa, hingga Amerika Latin dan Afrika, menjadikannya salah satu film Indonesia dengan jangkauan internasional paling luas dalam beberapa tahun terakhir.
Film ini juga diperkuat deretan pemain lintas generasi seperti Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Lukman Sardi, hingga Tora Sudiro, serta memperkenalkan Magistus Miftah.
Dengan rekam jejak Come and See Pictures yang sebelumnya memproduksi Pengabdi Setan 2: Communion dan serial Nightmares and Daydreams, Ghost in the Cell kini bersiap menyapa penonton Indonesia, membawa horor yang tak hanya menakutkan, tetapi juga menggugah kesadaran.