Bangga! Film Ghost in the Cell Garapan Joko Anwar Siap Diputar di 86 Negara
Terungkap bahwa sosok gaib memburu mereka yang memiliki energi paling negatif. Para napi pun terpaksa berlomba menjadi 'baik' demi bertahan hidup, ironi di tengah sistem yang korup.
Namun kemudian, mereka menyadari satu hal, yaitu bertahan bukan soal individu, melainkan bersatu melawan ketidakadilan, bahkan jika itu berarti menghadapi kekuatan tak kasatmata.
Joko Anwar menegaskan film ini lahir dari realitas yang dekat.
"Ini tentang kekuasaan dan sistem yang korup," ujarnya. Ia menambahkan, "Ketidakadilan itu bahasa universal."
Pernyataan itu tercermin dari respons pasar global yang melihat kisah ini bukan sekadar cerita lokal, melainkan potret masalah yang relevan di banyak negara.
Produser Tia Hasibuan menilai capaian ini sebagai bukti kualitas produksi.
"Banyak negara tertarik menayangkannya," katanya. Tak heran, jaringan distribusi film ini mencakup kawasan Asia Tenggara, Amerika Utara, Eropa, hingga Amerika Latin dan Afrika, menjadikannya salah satu film Indonesia dengan jangkauan internasional paling luas dalam beberapa tahun terakhir.
Film ini juga diperkuat deretan pemain lintas generasi seperti Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Lukman Sardi, hingga Tora Sudiro, serta memperkenalkan Magistus Miftah.
Dengan rekam jejak Come and See Pictures yang sebelumnya memproduksi Pengabdi Setan 2: Communion dan serial Nightmares and Daydreams, Ghost in the Cell kini bersiap menyapa penonton Indonesia, membawa horor yang tak hanya menakutkan, tetapi juga menggugah kesadaran.
Editor: Muhammad Sukardi