Dia juga mengungkapkan, bahwa perempuan di Iran telah lama memiliki peran strategis, terutama sejak Revolusi Iran 1979. Tingkat pendidikan perempuan pun tinggi, dengan sekitar 80 persen di antaranya mengenyam pendidikan tinggi.
Sementara itu, mantan Duta Besar RI untuk Iran periode 2012–2016, Dian Wirengjurit, menegaskan bahwa kondisi di dalam negeri Iran cukup solid. Ia menilai narasi yang menyebut rakyat Iran tertindas tidak sepenuhnya tepat.
“Yang berkembang di media Barat seperti CNN tidak selalu mencerminkan realitas di lapangan. Justru masyarakat Iran menunjukkan kesiapan menghadapi konflik, termasuk dengan AS dan Israel,” katanya.
Dalam sektor militer, Wanita Iran disebut telah mendapatkan pelatihan yang setara dengan pria. Banyak dari mereka bergabung dalam angkatan bersenjata maupun Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
“Perempuan Iran memiliki karakter yang kuat dan teguh. Mereka bukan hanya simbol, tetapi bagian nyata dari kekuatan pertahanan negara,” ujarnya.
Di tengah ancaman pascagencatan senjata dan ultimatum dari pihak luar, masyarakat Iran disebut tetap tenang dan tidak gentar. Konsolidasi internal yang solid menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat posisi negara tersebut dalam menghadapi dinamika geopolitik yang terus berkembang.