Tim hukum Adalah juga mengaku telah mengumpulkan kesaksian dan bukti terkait dugaan penggunaan setrum listrik berulang kali terhadap para aktivis. Selain itu, mereka mendokumentasikan perlakuan kasar saat para tahanan dipindahkan menuju Pelabuhan Ashdod.
Dalam proses pemindahan, para aktivis disebut dipaksa berjalan sambil membungkuk dan berlutut dalam waktu lama dalam posisi yang menyakitkan serta dianggap merendahkan martabat manusia.
Tak hanya itu, sejumlah aktivis Muslimah dilaporkan dipaksa melepas jilbab selama masa penahanan.
Para aktivis dijadwalkan menjalani pemeriksaan status penahanan pada Kamis (21/5/2026) sebelum nantinya dipulangkan ke negara masing-masing.
Sebelumnya, kontroversi juga muncul setelah Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir mengunggah video yang memperlihatkan para aktivis GSF berlutut dengan tangan terikat di belakang sambil diperdengarkan lagu kebangsaan Israel.
Global Sumud Flotilla merupakan misi kemanusiaan internasional yang bertujuan mengirim bantuan ke Gaza. Sebelum insiden terbaru ini, armada GSF gelombang pertama juga sempat diserang militer Israel di dekat Pulau Kreta, Yunani, pada akhir April lalu.