Kebijakan Impor Belum Berdampak, CAD Diprediksi Masih Tinggi di 2019

Isna Rifka Sri Rahayu
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Sementara itu, kebijakan PPh impor dinilai tidak memberikan efek yang besar karena meski menyasar 1.147 komoditas konsumsi, namun hanya berkontribusi sedikit pada penekanan impor. Pasalnya, pengendalian impor tidak hanya untuk barang konsumsi tapi juga bahan baku dan barang modal yang berkaitan dengan proyek infrastruktur. 

"PPh 22 efeknya tidak besar cuma 5,5 persen dari total impor non migas," ucapnya.

Menurut dia, level CAD dapat menurun jika defisit neraca perdagangan migas dapat ditekan. Namun, harga minyak mentah internasional di 2019 diproyeksikan masih fluktuatif di kisaran 70-80 dolar AS per barel.

"Di sisi lain produksi minyak atau lifting terus menurun. Ketergantungan impor BBM ini bisa dikurangi dengan penerapan B20," kata dia.

Selain itu, dari sisi menggenjot ekspor dalam jangka pendek dapat dilakukan dengan memberikan banyak keringanan bagi eksportir. Insentif yang diberikan pemerintah dapat menggenjot eksportir untuk menambah ekspornya lebih banyak.

Kemudian, Indonesia jangan lagi bergantung pada pasar tradisional seperti China dan AS karena keduanya masih sibuk dengan perang dagang. Oleh karenanya, pemerintah dapat menyasar pasar alternatif seperti Afrika, Asia Tengah, dan Rusia.

Editor : Ranto Rajagukguk
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Luhut soal BI Rate Naik: Fundamental Ekonomi RI Masih Oke, tapi Perlu Ada Perhatian

57 tahun lalu

BI Tingkatkan Imbal Hasil Investasi untuk Tarik Dana Asing ke RI

57 tahun lalu

Breaking News: BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50 Persen

57 tahun lalu

Cadangan Devisa RI Anjlok 1,3 Miliar Dolar AS Jadi 144,9 Miliar Dolar AS di Mei 2026

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal