Beberapa tahun setelah menikah, ia harus mengalami kehidupan serba pas-pasan kembali saat Indonesia dilanda krisis ekonomi pada tahun 1950-an. Demi menambah penghasilan rumah tangga, Mutiara Fatimah Djokosoetono atau yang biasa disapa Ibu Djoko ini memutuskan untuk berjualan batik door to door.
Namun karena tidak begitu menguntungkan, ia banting setir menjadi penjual telur. Telur dipilih karena dianggap memberikan keuntungan yang besar, dimana dahulu telur merupakan makanan mewah.
Usahanya berjalan cukup baik hingga membuatnya memiliki modal awal untuk membangun bisnis taksi. Terlebih, ia memiliki dua mobil bekas, sedan Opel dan Mercedes yang merupakan warisan dari suaminya yang baru saja meninggal dunia.
Bisnis taksi yang dibangun bersama kedua anaknya, Chandra Suharto dan Purnomo Prawiro tersebut diberi nama ‘Chandra Taxi’. Ketiganya mengonsep bisnisnya agar dapat dipesan melalui telepon pribadi.
Di awal peluncuran, Ibu Djoko tersendat di masalah perizinan, sehingga pemesanan taksi hanya terbatas pada pelanggan setianya. Namun setelah berjuang selama 6 tahun, bisnis taksi miliknya berhasil mengantongi izin dari Wali Kota Jakarta.