Sayanganya, sesampai di ibu kota dirinya justru ditinggal tetangganya. Dengan berat hati, dia kemudian kembali pulang ke Blora. Seiring waktu berjalan, tekad dan mental Sanawi perlahan terasah.
Dirinya memulai kembali untuk pergi sendirian ke Jakarta. Tak peduli aral melintang, dia akhirnya berangkat untuk menemui harapan masa depannya.
Sesampainya di Jakarta, Sanawi bertahan hidup dengan bekerja sebagai kuli bangunan. Namun, kerjaan seperti itu rupanya tidak memberi keberuntungan finansial bagi Sanawi.
Jakarta tampaknya belum menjadi kota harapan bagi Sanawi. Alih-alih pulang ke kampung, Sanawi bersama temannya pindah ke Samarinda, Kalimantan pada 2006.
Menyambung hidup di Kalimantan selama setahun tidak serta merta membuat hidupnya berubah. Dengan modal jaringan pertemanan, Sanawi mencoba menghubungi temannya hingga ditawarkan berjualan es krim.