Kadin, lanjut Anindya Bakrie, juga sudah mengantisipasi rencana penerapan tarif ini melalui kerja sama dengan Kadin AS.
"Dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto di November 2024, Kadin Indonesia bertemu dengan US Chamber of Commerce untuk mengantisipasi kebijakan ekonomi Presidenan Trump yang ke-2 dan mulai membangun fondasi B2B sebagai mitra sejawatnya," ujarnya.
Menurut Anindya, dampak signifikan akan dirasakan Indonesia jika AS menindaklanjuti tarif impor 32 persen, termasuk terhadap neraca pembayaran, khususnya neraca perdagangan dan arus investasi.
"AS merupakan pemasok valuta asing terbesar, yang menyumbang surplus perdagangan sebesar 16,8 miliar dolar AS (sekitar Rp281,2 triliun/kurs saat ini) pada 2024. Mitra dagang bilateral terbesar Indonesia pada tahun 2024 adalah AS. Hampir semua ekspor komoditas utama Indonesia ke AS meningkat pada 2024," ujarnya.
Sebagian besar barang Indonesia yang diekspor ke AS adalah produk manufaktur, yaitu peralatan listrik, alas kaki, pakaian, bukan komoditas mentah.
Produk Indonesia, lanjut dia, sebenarnya sudah dikenakan tarif impor sekitar 10 persen di AS. Namun, beberapa barang konsumsi sepenuhnya bebas bea masuk karena Indonesia menikmati fasilitas preferensi sistem umum (GSP) yang diberikan oleh pemerintah AS kepada negara-negara berkembang.
Kadin Indonesia pada awal Mei akan berkunjung ke AS untuk menindaklanjuti kerja sama dengan mitranya itu serta menghadiri beberapa konferensi bisnis/ekonomi guna menyikapi perkembangan terakhir.