CEO Ini Duduk di Toilet Selama 50 Jam untuk Kumpulkan Pendanaan Produksi Pertama

Aditya Pratama
CEO Who Gives A Crap, Simon Griffiths menghabiskan waktu selama 50 jam di toilet dalam kampanye melalui crowdfunding untuk membayar produksi massal perdana. (foto: Twitter @simongriffiths)

Sejak itu, perusahaan telah berkembang ke AS dan Inggris, membuka gudang Eropa pertamanya dan akan diluncurkan di Kanada. Tak hanya itu, perusahaan asal Australia ini juga memperluas jangkauan produknya ke tisu bambu, handuk kertas, dan handuk baru yang dapat digunakan kembali dan dicuci, Dream Cloth.

Selain crowdfunding, Who Gives A Crap telah mendapatkan pendanaan untuk sebagian besar perjalanan sembilan tahun. Pada awal Oktober 2021, perusahaan berhasil mengumpulkan 30 juta dolar AS atau setara Rp429,62 miliar dalam pendanaan eksternal dari investor termasuk perusahaan modal ventura seperti Verlinvest, The Craftory, Jamjar Investments dan Grok Ventures.

Griffiths mengatakan, peningkatan dukungan akan memungkinkan perusahaan untuk membantu lebih banyak orang yang membutuhkan.

“Ketika kita memikirkan tujuan dan masalah yang kita coba pecahkan. Jika kita ingin mengatasi masalah itu, kita perlu mempercepat pertumbuhan yang kita lihat hari ini dan mencoba menjangkau sebanyak mungkin orang. orang sebanyak mungkin. Modal ini akan membantu mempercepat jalan yang kita lalui dan jalan untuk menciptakan dampak,” kata Griffiths.

Who Gives A Crap bertujuan untuk meningkatkan sanitasi di negara berkembang dengan menjual produk kebersihan sehari-hari yang berkelanjutan. Untuk setiap produk yang dijual, seperti kertas toilet andalannya yang terbuat dari 100 persen bahan daur ulang, perusahaan menyumbangkan 50 persen dari keuntungannya untuk membangun toilet bagi mereka yang membutuhkan.

Editor : Aditya Pratama
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Unik, Produsen Mobil China Patenkan Toilet di Kursi Kendaraan

57 tahun lalu

JK Ungkap Alasan Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim: Sangat Tidak Etis!

57 tahun lalu

MNC Peduli Dorong SDN Cibilik Menuju Sekolah Adiwiyata Lewat Budaya Ramah Lingkungan

57 tahun lalu

Ekonom Kritik Produk AS Masuk RI Tak Wajib Sertifikasi Halal, Ancam Industri Nasional

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal