Mengenal Makanan Pokok Papua, Papeda Sehat untuk Paru hingga Cocok Dikonsumsi Bayi
Bustar menegaskan, pengelolaan sagu oleh masyarakat Papua sudah sustainable, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang perlu dikhawatirkan adalah jika lahan sagu beralih fungsi, misalnya menjadi lahan properti komersial atau kawasan industri berskala besar. Jika hutan Papua tidak diproteksi sejak sekarang, lahan sagu bisa menyusut secara signifikan.
Akibatnya, akan kehilangan sumber pangan. Di samping itu, penebangan hutan secara besar-besaran juga berpotensi meningkatkan emisi karbon. Selain membuat bumi menjadi semakin panas, emisi karbon juga mendorong perubahan iklim yang bisa mendatangkan bencana alam bagi lingkungan hidup dan manusia.
Sebelum bisa jalan-jalan ke Papua dan mencicipi berbagai makanan tradisional Papua, Chef Chato mengajak mengenal lebih jauh salah satu makanan khas Papua paling populer, yaitu papeda. Berikut sembilan fakta yang perlu diketahui.
1. Filosofi di meja makan
Saat satu keluarga menggunakan helai dan makan papeda dari satu hote yang sama, saat itulah papeda menyimpan makna yang dalam. Helai adalah peralatan makan tradisional dari kayu untuk menyajikan papeda, sedangkan hote merupakan piring kayu untuk menyantap papeda. Masyarakat Sentani menyebut tradisi makan papeda dari satu piring yang sama dalam satu keluarga sebagai helai mbai hote mbai. Mbai berarti satu.
Filosofinya, makan dalam satu keluarga menyimpan cerita untuk masa depan anak dan cucu. Karena, acara makan bersama yang menandai ikatan kekeluargaan itu menjadi ruang diskusi antara ayah, ibu, dan anak, menjadi ruang kecil untuk bermusyawarah.