5 Kuliner yang Lagi Hits di Media Sosial, Nomor 4 Paling Panjang Antreannya
2. Kue Cubit
Kue cubit awalnya hanyalah jajanan biasa dan sederhana. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kue cubit mengalami perubahan pula. Kini kue cubit kembali hits dengan warna yang menarik serta diberi toping ala makanan kekinian, seperi keju, matcha dan lain-lainnya
3. Odading
Kue Odading sebenarnya merupakan jajanan yang sudah cukup dikenal masyarakat secara luas dengan nama yang berbeda-beda seperti kue bantal dengan tekstur yang tebal, empuk, dan berserat. Olahan roti yang terdiri dari campuran adonan telur, gula pasir, tepung terigu ini dibuat dengan cara digoreng dalam minyak panas hingga mengembang. Odading kembali menjadi tren setelah sempat viral di media sosial lewat video review odading Mang Oleh dari seorang pria bernama Ade Londoh. Nama Odading berasal dari bahasa Belanda yaitu “O dat ding? Yang berarti “O benda itu”.
Dahulu, pada masa penjajahan Belanda ada seorang anak yang ingin membeli kue jajanan sambil menunjuk-nunjuk kepada ibunya karena dia tidak tahu apa namanya. Lalu saat melihat kue tersebut si ibu berkata “O dat ding?”. Dari situ akhirnya kue tersebut dinamakan Odading.
4. Bakso Lobster
Bakso lobster memiliki bentuk yang berbeda dari bakso pada umumnya yang berbentuk bulat. Seperti namanya, bakso lobster merupakan perpaduan antara daging bakso yang membalut lobster berukuran jumbo. Bakso Lobster menjadi salah satu menu kuliner yang cukup populer. Masyarakat rela harus mengantre berjam-jam demi untuk menikmatinya.
5. Sei Sapi
Tren kuliner daging yang cukup nge-hits dan menjadi perbincangan di media sosial adalah Se’i Sapi yaitu olahan daging asap khas Kupang yang dimasak dari panasnya asap kayu bakar dalam jangka waktu tertentu, bukan dengan cara dibakar. Daging Se’i diolah dengan cara tradisional. Diiris memanjang dengan lebar sekitar 2 hingga 3 cm kemudian ditaburi garam dan rempah, kemudian diasap.
Proses pengasapan daging Se’i menggunakan kayu kosambi sehingga menghasilkan aroma yang sedap. Biasanya, pengasapan dilakukan hingga sembilan jam. Mulanya, daging Se’i ini menggunakan daging rusa, tetapi karena rusa semakin langka maka digunakan daging sapi atau daging babi. Namun, setelah dikenal secara luas, Se’i kini banyak menggunakan bahan yang halal yaitu daging sapi atau daging ayam.
Editor: Vien Dimyati