Kini, Taman Margasatwa Ragunan berkembang pesat dari luas awal sekitar 30 hektare menjadi 127 hektare. Kebun binatang ini bahkan dikenal sebagai salah satu yang terluas di Asia.
Menariknya, Ragunan masih menyimpan jejak sejarah dari masa awal berdirinya. Beberapa satwa yang berasal dari era Cikini dilaporkan masih hidup hingga kini dengan usia mencapai lebih dari 50 tahun.
"Masih ada beberapa memori yang tersimpan dari Cikini. Seperti Beruang Eropa itu masih hidup. Kemudian Gajah Sumatra usianya sudah di atas 50 tahun. Ada juga simpanse," ujar Bambang.
Melihat usia satwa yang sudah sangat tua, pengelola memberikan perawatan khusus dan tidak lagi menampilkannya kepada publik. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kesehatan serta kenyamanan hewan-hewan tersebut.
"Kita masih rawat karena itu merupakan satu kenangan dari Cikini sampai sekarang," katanya.
Di sisi lain, Ragunan juga terus melakukan regenerasi satwa. Salah satunya melalui kelahiran bayi orang utan berusia tiga bulan dan primata gibon di Pusat Primata Schmutzer, meski saat ini masih dalam masa karantina dan pengawasan induknya.
Perpaduan antara sejarah panjang dan upaya konservasi modern menjadikan Ragunan bukan sekadar tempat rekreasi, tetapi juga saksi perjalanan panjang pelestarian satwa di Indonesia.
Editor: Dani M Dahwilani