Menelusuri Kampung China di Manado Membawa Pengunjung ke Masa Lalu
Tak sulit menemukan lokasi pecinan ini sebab berada di tengah-tengah kota. Ke sini bisa menggunakan angkot jurusan Pasar 45 atau taksi online. Dari bandara berjarak sekitar 20 kilometer. Di sekitar kawasan, banyak terdapat rumah makan atau kedai kopi.
Budayawan Tionghoa Sofyan Jimmy Yosadi menggatakan kawasan Kampung China ini sejak ratusan tahun sudah ada di daerah Kota Manado atau dulunya disebut Wenang. Awalnya kawasan ini masih berupa rawa-rawa, dibangun di belakang Benteng Fort Amsterdam yang didirikan bangsa Portugis dan Spanyol kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda yang namanya diubah menjadi benteng Fort Nieuw Amsterdam (Amsterdam Baru).
"Kemudian di belakang benteng oleh pemerintah Hindia Belanda dibangun pemukiman-pemukiman berdasarkan etnis. Ada China, Arab, termasuk Minahasa. Gunanya untuk mudah mengontrol sehingga pemerintah Hindia Belanda di mana-mana sejak Batavia sampai di beberapa daerah di nusantara adalah untuk mengontrol jadi dikumpulkan, sehingga di belakang benteng Ini lahirlah apa yang disebut pemukiman khusus warga Tionghoa yang namanya Kampung China di sebelahnya ada kampung Arab ada juga disebut dengan Kampung Tomohon dan ada bantik dan sebagainya," tutur Sofyan Jimmy Yosadi, Minggu (23/5/2021).
Sejak ratusan tahun itu kemudian ada kawasan yang rmerupakan kumpulan orang-orang Tionghoa dan dari sinilah kemudian dibangun Klenteng pertama di tanah Minahasa, Sulawesi Utara yang namanya adalah klenteng ban Hin Kiong. Kemudian kurang lebih catatan sejarahnya, artefak yang ada di dalam dokumen itu Klenteng ini dibangun pada 1700-an, tapi kemudian mengalami beberapa renovasi pembaruan kemudian renovasi yang paling besar-besaran itu ada pada 1918.
"Di sini ada pemimpin-pemimpin bangsa Tionghoa yang namanya kapiten China atau leutenant China yang juga merupakan pemimpin pemimpin yang Belanda dipilih untuk mengontrol orang-orang ini termasuk pajak - pajak dan akhirnya dibuatkan juga satu dewan yang namanya konghuan itu untuk mengelola klenteng Ban Hin Kiong dalam tata cara upacara," kata Sofyan.