Sejarah dan Keajaiban Triple Crown, Mahkota Paling Sakral dalam Dunia Pacuan Kuda
“Realistis saja. Karena kuda-kuda di sini belum kuat jaraknya sepanjang itu,” ucap Munawir.
Ada yang nyaris, King Master, Queen Thalassa, Lady Aria, dan lainnya. Namun selalu tersandung di salah satu leg.
Kini, sejarah mungkin akan ditulis ulang. Kuda King Argentine telah memenangi IHR–Triple Crown Serie 1 dan Serie 2. Satu balapan tersisa: IHR–Indonesia Derby pada 27 Juli 2025. Jika ia menang, ia akan menjadi kuda ketiga dalam sejarah Indonesia yang menyandang gelar Triple Crown Champion.
“Triple Crown menuntut daya tahan luar biasa kuda, konsistensi tak tergoyahkan, strategi cermat, dan kesiapan menghadapi tantangan cuaca, cedera, bahkan fluktuasi psikologis seekor kuda,” jelas Munawir.
Gelar Triple Crown bukan hanya soal kecepatan, tapi tentang keseimbangan sempurna antara fisik, teknik, mental, dan taktik. Ia adalah medali emas tak kasat mata, yang hanya bisa dicapai oleh yang benar-benar unggul.
Tanggal 27 Juli nanti, publik pacuan kuda Indonesia akan menahan napas. Apakah King Argentine akan menuliskan namanya di daftar abadi bersama Manik Trisula dan Djohar Manik? Ataukah mahkota itu kembali menjauh?
Editor: Reynaldi Hermawan