Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Keren! Indonesia Bakal Punya Arena Pacuan Kuda Kelas Dunia, Ini Lokasinya
Advertisement . Scroll to see content

Sejarah dan Keajaiban Triple Crown, Mahkota Paling Sakral dalam Dunia Pacuan Kuda

Rabu, 09 Juli 2025 - 08:55:00 WIB
Sejarah dan Keajaiban Triple Crown, Mahkota Paling Sakral dalam Dunia Pacuan Kuda
Dalam jagat pacuan kuda, tak ada prestasi yang lebih sakral dan mengguncang dunia selain Triple Crown (Foto: Sarga.co)
Advertisement . Scroll to see content

Inggris: Tempat Triple Crown Menjadi Legenda

Di tanah kelahiran pacuan kuda modern, Triple Crown adalah mimpi yang nyaris mustahil. Terakhir kali diraih oleh Nijinsky (1970). Sejak itu, tak satu pun berhasil, termasuk Camelot (2012) yang jatuh di ujung jalan, St. Leger.

Jepang: Sambakan, Simbol Keteguhan Setengah Tahun

Jepang menuntut stamina jangka panjang: dari Satsuki Sho hingga Kikuka Sho, membentang dari April sampai Oktober. Hanya delapan kuda jantan yang menaklukkannya, dengan Contrail (2020) sebagai penakluk terakhir. Untuk kuda betina, Triple Tiara diukir nama-nama agung seperti Apapane, Gentildonna, dan Liberty Island (2023).

Australia: Dua Jalur Mahkota, Dua Dunia Berbeda

Triple Crown untuk kuda jantan? Ada. Untuk sprinter? Ada juga. Dari Octagonal (1996) hingga It’s A Dundeel (2013), medan Australia tak kalah berat. Untuk spesialis sprint, hanya segelintir yang mampu mendekat. Namun jika bicara kecepatan murni, Black Caviar adalah ratu tak tertandingi: 25 kemenangan tanpa pernah kalah.

Hong Kong: Ujian Dewasa yang Nyaris Tak Terlampaui

Uniknya, Triple Crown Hong Kong terbuka untuk kuda dewasa, bukan hanya usia 3 tahun. Tantangannya sangat berat, hingga kini hanya dua kuda yang berhasil: River Verdon (1994) dan Voyage Bubble (2025).

Indonesia dan Mahkota yang Belum Lagi Terjamah

Indonesia punya versinya sendiri dari Triple Crown: tiga seri berjenjang—April (1.200 meter), Mei (1.600 meter), dan puncaknya Juli (2.000 meter) di Indonesia Derby. Sejak awal sejarahnya, hanya dua kuda yang berhasil menyapu bersih: Manik Trisula (2002) dan Djohar Manik (2014). Setelah itu, mahkota hanya jadi kenangan.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut