Alwi Farhan Pakai Ilmu Ketapel untuk Bungkam Hujan Kritik
“Tapi itu tidak membuat saya down. Justru itu yang membangun mental saya menjadi lebih kuat,” sambungnya.
Dari fase terendah tersebut, Alwi memilih bangkit dengan pendekatan mental yang dia sebut ilmu ketapel. Konsep ini dia terapkan untuk menjadikan tekanan sebagai dorongan agar bisa melesat lebih jauh.
Perubahan tersebut langsung terlihat dalam tiga turnamen terakhir. Seusai kegagalan di Piala Thomas, Alwi meraih posisi ketiga di Singapore Open, melangkah hingga 16 besar Indonesia Open, lalu menutup rangkaian dengan gelar juara Australia Open 2026.
“Saya percaya dengan kejadian seperti itu saya menjadi pribadi yang lebih kuat lagi. Ibarat ketapel, ditarik ke belakang untuk bisa melesat lebih jauh,” tutur Alwi.
Pebulu tangkis berusia 21 tahun tersebut menyebut tiga turnamen terakhir sebagai momentum kebangkitan yang memang sudah dia bidik sejak awal. Target gelar menjadi motivasi utama di tengah tekanan dan keraguan publik.