Takmir Masjid Tahan Tabloid Indonesia Barokah agar Tak Beredar Luas
“Saya tahunya dari mereka, kalau tabloid itu masih dilarang beredar,” ucapnya.
Meski amplop sudah dibuka, Namun Edi mengaku belum tahu detail isi dari tabloid tersebut. Dia hanya melihat secara sekilas gambar yang ada. “Nuansanya politik ada gambar, tetapi detail isinya saya belum membaca,” katanya.
Hal tersebut juga sudah disampaikan kepada warga, tokoh masyarakat maupun dan tokoh agama. Meski belum menjadi keputusan takmir, namun dalam pengajian Malam Jumat Kliwon, disepakati agar ditahan dan tidak disebarluaskan ke masyarakat.
“Hanya diminta untuk menahan saja agar tidak beredar di masyarakat,” ujarnya.
Dia menuturkan, warga juga tidak ada yang berusaha untuk melihat dan membaca tabloid tersebut. Begitu diminta untuk ditahan tidak ada yang berusaha untuk meminjam. “Saya tak tertarik membacanya. Kebetulan saya masih sibuk,” tuturnya.
Sebagai perangkat desa, Edi tidak mau terjebak dalam kepentingan politik praktis. Dia masih menjunjung tinggi netralitas perangkat desa. Dia memastikan tidak akan memberikan tabloid itu ke masyarakat sebelum ada kepastian boleh atau tidaknya tabloid itu beredar. “Saya netral tidak mau dukung mendukung,” ucapnya.
Editor: Donald Karouw