Sejak Letusan yang Tewaskan Mbah Maridjan, Merapi Sudah 7 Kali Erupsi
YOGYAKARTA, iNews.id – Masih ingat dengan letusan Gunung Merapi yang terjadi pada Oktober 2010 silam. Erupsi besar yang terjadi ketika itu memuntahkan lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas. Korban jiwa akibat bencana itu mencapai ratusan, satu di antaranya yakni sang juru kunci Gunung Merapi, Raden Ngabehi Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan panggilan Mbah Maridjan.
Sejak erupsi besar hingga meletus kembali pada Jumat (11/5/2018) sekitar pukul 07.32 WIB pagi tadi, tercatat sudah tujuh kali Gunung Merapi mengalami erupsi freatik. Kejadian itu dinilai hal wajar untuk kategori gunung api aktif.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Yogyakarta Hanik Humaida mengatakan, erupsi freatik diakibatkan adanya akumulasi gas. Di dalam kawah ada aktivitas gas menguap, tetapi terhambat material erupsi 2010 silam. Gas itu kemudian terakumulasi hingga akhirnya mendorong ke atas terjadi dan menyebabkan erupsi freatik yang diikuti dengan uap dan debu vukanik.
"Akumulasi gas beserta uap air ini menghasilkan gas dan mengeluarkan uap serta abu berwarna putih,” kata Hanik.
Dia mengatakan, kejadian itu merupakan hal yang umum. Hanya saja, dalam erupsi pagi tadi tidak menunjukkan tanda-tanda, seperti alat seismograf yang tidak mendeteksi secara signifikan.