Protes Jalan Rusak, Warga 3 Pedukuhan Kulonprogo Tutup Jalur Tambang
Menurutnya, selama ini penambang berjanji untuk memperbaiki jalan dengan menggunakan pasir campur batu (Sirtu). Namun yang terjadi hanya ditambal menggunakan tanah dari lokasi tambang. Akibatnya kondisi jalan semakin parah dan tidak merata. Bahkan saat hujan, jalan menjadi licin dan membahayakan warga.
“Mereka juga berjanji menyirami jalan enam kali per hari, tetapi nyatanya tidak ada,” ucapnya.
Warga lainnya, Subiyanto berharap permasalahan itu segera terselesaikan. Pihak perusahaan yang melakukan aktivitas tambang agar menjalankan kewajibannya yang sudah menjadi komitmen bersama. “Janji untuk memberi kompensasi kepada warga yang tanahnya dilewati juga harus ditepati,” kata Subiyanto.
Diketahui, sesuai kesepakatan awal, warga di Ring I mendapatkan kompensasi Rp200.000 dan ring II Rp100.000 per bulan. Jika ada lembur juga akan diberikan Rp25.000 per bulan. Sementara untuk desa, setiap truk yang melintas wajib membayar Rp2.000.
Kepala Desa Kaligintung Harjono meminta penambang untuk ikut peduli memelihara infrastruktur jalan. “Ini harus diperbaiki dulu, kalau mau urug dengan sirtu, jangan tanah,” tuturnya.
Sementara itu pemilik tambang Desty Pujilestari mengatakan, permasalahan yang muncul hanya masalah misskomunikasi saja. Kompensasi bagi warga sebenarnya sudah dibayarkan melalui perangkat desa. Begitu juga dengan upah klebet juga sudah.
“Itu hanya misskomunikasi saja, kami sudah bayarkan. Termasuk dana kompensasi warga. Kami juga sudah kerakan alat berat untuk memperbaiki jalan,” ujarnya.
Editor: Donald Karouw