Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Tampang Pimpinan Padepokan Padang Ati Pekalongan yang Diduga Cabuli Puluhan Santriwati
Advertisement . Scroll to see content

Ngeri, Korban Oknum Guru Ngaji Cabul di Sleman Ternyata Capai Belasan

Selasa, 02 Mei 2023 - 16:39:00 WIB
Ngeri, Korban Oknum Guru Ngaji Cabul di Sleman Ternyata Capai Belasan
Korban pencabulan guru ngaji di Sleman mencapai belasan orang. (Foto Ilustrasi: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

SLEMAN, iNews.id- Oknum guru ngaji asal Kalurahan Banyuraden Kapanewon Gamping, Sleman telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pencabulan dan persetubuhan terhadap anak M, salah satu santrinya yang kini berusia 17 tahun. Selain M ternyata korban guru ngaji berinisial KSM (50) ini mencapai belasan.

Penasihat hukum korban, Iwan Setiawan mengungkapkan, selain M ternyata muncul nama-nama lain yang juga menjadi korban. Dirinya sendiri sudah mendampingi 4 orang bocah perempuan yang menjadi korban predator seks berkedok guru mengaji tersebut. "Awalnya hanya M. Tetapi kemudian korban lain bermunculan ada 4 orang,"ujarnya.

Dalam assessment yang dilakukan oleh Kementerian Sosial ditemukan fakta mengejutkan. Karena ternyata korban aksi bejat oleh oknum guru ngaji, Ksm mencapai 15 orang. Semuanya masih berusia di bawah umur yaitu di bawah usia 17 tahun.

Modus yang digunakan oleh pelaku memang nyaris serupa di mana korban harus menjalani ritual karena masuk kategori indigo. Aksi pencabulan sendiri dilakukan bermacam-macam mulai dari dicium, diraba pahanya, diremas payudaranya hingga dielus kemaluannya. 

"Tetapi ada korban yang usianya baru 6 tahun. Dia itu dipangku dan kemudian diciumi,"kata dia.

Saat ini yang baru terbuka bahwa pernah disetubuhi pelaku adalah korban M. Sementara yang lain belum ada yang mengaku disetubuhi. Namun hari ini, Selasa (2/5/2023) ada dua bocah yang menjalani visum di RSA UGM untuk membuktikan pernah disetubuhi atau tidak.

Semua korban berasal dari satu kampung. Mereka semua adalah santri yang sering mengaji di tempat pelaku. Rumah pelaku sebenarnya bukan pondok pesantren, namun hanya rumah biasa. Namun warga setempat sering datang ke rumah pelaku untuk belajar ilmu agama.

"Itu bahkan ada korban yang kakak adik. Ada juga orangtua korban yang juga menjadi murid dari pelaku,"kata dia.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut