Minta Legalitas dan Lahan Mangkal, Pengemudi Betor di Yogyakarta Demo
Koordinator aksi Sugito menambahkan, kawasan Jalan Malioboro sudah tidak seramah dulu. Pembangunan yang dilakukan tidak memberikan ruang bagi mereka untuk mangkal dan mengais rejeki. Dengan diletakkannya batuan bulat di sepanjang trotoar, tidak bisa dipakai untuk mangkal, begitu pun halnya dengan becak ontel.
“Kami harus ke mana. Penumpang kami hanya dari pengunjung Malioboro,” ucapnya.
Upaya para pengemudi betor untuk menjalankan aktivitasnya juga tidak bisa nyaman. Mereka kerap harus kucing-kucingan agar tidak terjaring razia kepolisian. Kebanyakan memilih beroperasi pada malam hari karena dirasakan lebih aman.
Sugito menuturkan, keberadan betor juga semakin terpinggirkan dengan adanya aplikasi transportasi online. Saat ini banyak pengunjung Malioboro berganti dengan ojek online baik dengan sepeda motor atau pun mobil. “Kami mohon keadilan agar diberikan ruang,” tuturnya.
Aksi para pengmudi betor ini pun bukanlah kali pertama. Mereka sudah sering menggelar aksi baik di DPRD DIY maupun di Pemkot Yogyakarta, serta Dinas Perhubungan. Mereka selalu menuntut payung hukum agar betor bisa tetap beroperasi.
Editor: Donald Karouw