Kisah Warga Menyumbang Emas hingga Uang untuk Biaya Perang Pangeran Diponegoro
Sebenarnya sekitar tiga bulan sebelum berkumpul, peristiwa serangan Belanda atas Tegalrejo, pangeran sudah mulai membebaskan pajak - pajak, dan mengumpulkan dana - dana untuk membiayai perang.
Pendanaan perang pada awalnya mengandalkan sumber-sumber tradisional. Para pangeran dan priyayi Yogya menyumbang emas, permata, uang, dan barang berharga lainnya. Semua sumbangan ini dibawa ke medan perang oleh istri-istri dan putri - putri mereka.
Suatu sistem yang sangat menyentuh, yang terulang kembali pada masa Revolusi Indonesia.
Konon iring-iringan konvoi Belanda yang membawa logistik juga diserang oleh warga, dan hasil rampasan awal ini digunakan untuk membiayai pertempuran - pertempuran.
Banyak pengikut Pangeran Diponegoro telah siap berperang, memperlengkapi diri dengan senjata - senjata tradisional seperti, ketapel, gada, juga tombak yang terbuat dari bambu yang diruncingkan, alias bambu runcing.
Mereka berdatangan ke Selarong mulai akhir Juli hingga awal Agustus, untuk menerima perintah dari pangeran. Setelah itu mereka langsung pergi menempati pos - pos yang telah ditentukan bagi mereka.
Gaya berperang Pangeran Diponegoro begitu memanfaatkan semaksimal mungkin kekuatan lokal pedesaan. Banyak warga desa dikerahkan untuk melakukan pencegahan bala bantuan Belanda.
Editor: Reza Yunanto