Dikukuhkan Jadi Guru Besar UIN Yogyakarta, Iswandi: Kebencian Cepat Berkembang di Medsos
Untuk menangkal kebencian di media sosial, Iswandi meminta perhatian pada akademisi, pemerintah dan netizen.
"Seorang akademisi perlu memperkuat budaya riset berbasis big data, budaya membaca, budaya berpikir, budaya kritis dan budaya berani berpendapat. Sebab, hoaks dan kebencian di media sosial hanya dapat dihentikan dengan budaya riset, budaya membaca, budaya berpikir, budaya kritis dan budaya berpendapat," katanya.
Dalam pidatonya yang berjudul "Hoaks dan Spiral Kebencian di Media Sosial" tersebut Iswandi meminta perhatian pemerintah untuk tetap menjamin kebebasan berpendapat dan kebebasan berbicara warganet di media sosial.
“Kebebasan saat ini harus benar-benar dijamin pemerintah sebagai freedom for, bukan freedom from. Pemerintah dan negara harus cermat dalam membedakan antara hoaks dengan kritik dan satir, dapat memilah antara kebencian dan kekecewaan, dapat merasakan perbedaan antara berpendapat dan menghujat," katanya.
Sementara pada warganet, Iswandi meminta perhatian agar lebih cermat dalam aktivitas di media sosial. "Kebebasan berbicara bukan berarti bebas membenci. Freedom of speech bukan berarti freedom to hate. Gunakan jempol untuk konten jempolan," katanya.
Editor: Kastolani Marzuki