Derita Sopir Taksi Konvensional di Yogya setelah Digerus Taksi Online
Sopir taksi lainnya, Daryanto menuturkan, setoran selalu dipenuhi setiap hari sekitar Rp300.000an. Dia pun masih bisa membawa pulang uang ke rumah sekitar Rp500.000an. Namun, kini hasil yang diperoleh jauh dari yang diharapkan. “Dulu kerja sehari bisa untuk dua atau tiga hari. Sekarang satu hari bekerja hanya cukup untuk sehari,” ucapnya.
Ketua Paguyuban Taksi Pataga, Sujarwo Candra mengatakan, sesuai dengan SK Gubernur, jumlah taksi yang ada di DIY ada 1.000 unit. Namun saat ini yang beraktivitas hanya sekitar 600-700 unit.
Mereka harus bersaing ketat dengan taksi online yang sejak tiga tahun belakangan menggerus pendapatan mereka. “Dulu saat krisis ekonomi hanya seperti badai. Kalau saat ini ancaman sudah seperti tsunami langsung hilang,” ujarnya.
Menurut dia, banyak operator taksi yang merugi karena tidak mampu memenuhi kebutuhan minimal, bahkan ada yang menjual asetnya dengan semakin banyaknya sopir yang keluar. “Sekarang ini sulit untuk mencari penumpang juga sulit mencari pengemudi,” ucapnya.
Atas kondisi tersebut, Pataga berencana menggandeng Blue Bird melalui program Kawan Bluebird. Mereka masih sebagai pemilik dan operasioanl dikendalikan oleh Blue Bird melalui program CSR (corporate social responsibility).
Editor: Kastolani Marzuki