Curhat Pemilik Toko Perlengkapan Haji: Dapat Rp1 Juta Rasanya Sulit
"Kalau tahun-tahun kemarin, dalam sehari omzet kami Rp3-4 Juta, tahun ini dapat Rp1 juta aja rasanya sulit," ujarnya.
Dia menyadari keputusan pemerintah meniadakan ibadah haji tahun ini bertujuan untuk kebaikan bersama. Di samping itu, dia juga masih bisa menjual stok makanan seperti kurma dan air zam-zam yang tetap laku pada hari-hari biasa.
"Pada Ramadan kemarin, Alhamdulillah kurma cukup laris untuk keperluan buka puasa. Air zam-zam juga cukup laku, orang-orang biasanya beli eceran satu liter," ujarnya.
Sementara itu, Toko Ar Raudhoh, yang juga menyediakan perlengkapan haji dan oleh-oleh di Driyan, Wates, pada tahun memilih tidak kulakan. Pemilik toko Sutrisno NS, mengatakan keputusannya untuk tidak nyetok barang dagangan.
Dia meyakini pandemi Covid-19 bakal berlangsung lama, sehingga kegiatan haji dipastikan gagal terlaksana. Di samping itu juga karena adaya informasi rencana peniadaan ibadah haji dari pihak Arab Saudi yang diterimanya pada akhir Februari 2020.
"Kebetulan saat awal kemunculan Covid-19 saya tengah membawa rombongan jemaah umrah. Dari disitu saya mendapat informasi dari pihak Arab Saudi kalau kemungkinan ibadah haji ditiadakan," katanya.
Artikel ini telah tayang di Harianjogja.com dengan judul "Ibadah Haji Ditiadakan, Omzet Pemilik Toko Perlengkapan Haji Anjlok"
Editor: Nani Suherni