Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Menag Salurkan Bantuan Setengah Miliar untuk Guru Madrasah dan Siswa Terdampak Longsor Cisarua
Advertisement . Scroll to see content

Wakil Wali Kota Medan Minta Menag Minta Maaf terkait Polemik Suara Azan dan Gonggongan Anjing

Jumat, 25 Februari 2022 - 18:39:00 WIB
Wakil Wali Kota Medan Minta Menag Minta Maaf terkait Polemik Suara Azan dan Gonggongan Anjing
Wakil Wali Kota Medan Aulia Rachman (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

Terkait polemik ini, Aulia juga mengingatkan agar berbicara sesuai dengan kapasitas dan fungsinya. Kemudian, yang sebanding dengan ilmu yang diraih maupun jabatan yang diemban.

Sementara Menag Yaqut Cholil Qoumas juga telah merespons polemik terkait pengeras suara masjid dan suara gonggongan anjing. Dia menegaskan, tidak membandingkan keduanya. 

"Tidak ada kata membandingkan atau mempersamakan antara azan atau suara yang keluar dari masjid dengan gonggongan anjing," tulis Menag Yaqut dalam penjelasannya di Facebook dikutip, Jumat (25/2/2022). 

Menag Yaqut juga menyertakan transkip pernyataannya saat diwawancara media di Pekanbaru, Rabu (23/2/2022). Polemik yang muncul setelah itu dinilainya tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. 

Berikut penjelasan lengkap Menag Yaqut terkait toa di masjid dan musala:

Soal aturan azan, kita sudah terbitkan surat edaran pengaturan. Kita tidak melarang masjid-musala menggunakan toa, tidak. Silakan. Karena kita tahu itu bagian dari syiar agama Islam. Tetapi ini harus diatur, tentu saja. Diatur bagaimana volume speaker, toanya tidak boleh kencang-kencang, 100 dB maksimal. Diatur kapan mereka bisa mulai menggunakan speaker itu, sebelum azan dan setelah azan, bagaimana menggunakan speaker di dalam dan seterusnya. 

Tidak ada pelarangan. Aturan ini dibuat semata-mata hanya untuk membuat masyarakat kita semakin harmonis. Meningkatkan manfaat dan mengurangi mafsadat. Jadi menambah manfaat dan mengurangi ketidakmanfaatan. 

Karena kita tahu, misalnya, ya di daerah yang mayoritas muslim. Hampir setiap 100 meter, 200 meter itu ada musala-masjid. Bayangkan kalau kemudian dalam waktu bersamaan mereka semua menyalakan toa nya di atas, kayak apa. Itu bukan lagi syiar, tapi menjadi gangguan buat sekitarnya.

Editor: Maria Christina

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut