Riki Ramadan kemudian memanggil MIR sambil marah-marah. Dia lalu mencekik MIR sambil mengangkatnya, lalu membawanya keluar rumah. Di luar, pelaku kemudian membanting MIR dan selanjutnya menendang bocah malang itu.
“Dipanggilnya anak itu sambil marah-marah, dia bilang sini kau, dekat sini. Dibukanya singletnya (kaos dalam). Trus ditangkapnya leher anak itu, diangkatnya, langsung dibawa ke luar, agak enggak jauh dari gubuk, trus dijatuhkannya, ditendang dia,” kata Sri.
Sri hanya bisa menyaksikan putranya dianiaya oleh suaminya. Dia sempat meminta Riki menghentikan perbuatannya karena tidak tega melihat MIR disakiti.
“Saya cuma bisa bilang, janganlah bang. Anak itu enggak bersuara lho, padahal tendangannya kuat, sampai bersuara gedebuk gitu. Kemungkinan itulah yang bikin tulang rusuknya patah,” kata Sri.
MIR yang terus mendapat kekerasan dari ayah tirinya, akhirnya meninggal dunia di hari itu juga, sekitar pukul 17.00 WIB. Setelah korban tewas, Riki mengajak Sri Astuti membawa jenazah korban ke lereng dan menguburnya di sana.
Kasus ini akhirnya terungkap sepekan kemudian, Rabu 4 September 2019, setelah polisi mendapatkan informasi dari masyarakat setempat. Warga curiga karena mencium bau busuk menyengat di sekitar bukit dekat perkebunan karet.
Pascapenemuan mayat MIR, petugas Polres Langkat mengamankan ayah tiri korban, Riki Ramadan Sitepu dan menetapkannya sebagai tersangka. Dari hasil pemeriksaan, polisi kemudian menetapkan ibu kandung korban Sri Astuti sebagai tersangka kasus penganiayaan tersebut.
Editor: Maria Christina