Kisah Hijrah Tengku Zulkarnain, Buang Gitar Kesayangan ke Sungai dan Berhenti Bermusik demi Dakwah
Ketika itu, Tengku Zulkarnain mengatakan, sudah terbiasa bermain musik. Bahkan, sambil menunggu nasi masak, dia biasa bermain organ saat kecil. "Saya sangat sayang sama ibu. Saya masak nasi, masak nasi masih pakai bambu, ditiup bambunya. Sambil menunggu nasi masak saya masak organ itu," ujarnya.
Sang ayah kemudian membelikannya gitar, saat kelas 3 atau kelas 4. Dia mempelajari dasar-dasar gitar klasik. Dalam sehari, Tengku Zulkarnain harus bermain gitar tiga hingga empat jam, sesuai perintah sang bapak.
"Malam dia pulang kerja dia, saya pulang ngaji, saya dikontrol, main. Kalau ga ada kemajuan dijitak kepala saya. Main musik aja goblok," katanya menirukan ucapan sang bapak.
Karena itu, hidup Tengku Zulkarnain saat itu tidak lepas dari main musik dan gitar. Bahkan, saat dia tidur, gitar ada di sebelahnya karena setiap pagi dia harus berlatih.
"Tidur saya itu di sebelah ada gitar, bangun tidur harus main gitar dulu setengah jam baru salat subuh karena tangannya masih kaku. Kalau sudah bisa habis subuh main gitar tidak kaku, itu berati kalau siang hari seperti ini itu lincah sekali jarinya," katanya.