“Tentunya pertamanya sedih. Kasus ini berbeda dengan orang yang buta sejak lahir dan seperti yang saya alami,” ujarnya, Jumat (4/10/2019).
Prada Gilang juga merasakan kesedihan yang dialami orangtuanya. Hal inilah yang mendorongnya untuk tetap kuat dan tegar.
“Orangtua sudah bangga saya jadi prajurit, namun kondisinya seperti ini. Saya sering melihat ibu saya hanya terduduk di rumah dan menangis. Saya tak ingin ibu bersedih. Saya harus bangkit untuk memberi semangat ke ibu saya. Itu yang selalu memotivasi saya,” ucapnya.
Meski divonis lumpuh dan buta, Prada Gilang tidak merasa terpuruk dengan kondisinya. Dia tetap optimistis dengan menjalani berbagai pengobatan hingga akhirnya dapat berjalan kembali. Kendati demikian, syaraf kedua matanya dinyatakan sudah pucat dan tidak dapat disembuhkan.
“Saraf mata pak Gilang mengalami kerusakan atau dalam bahasa kedokteran disebut atropi papil. Ini kondisi sulit dan bisa dikatakan akhir dari kesehatan mata. Pengobatannya sudah tidak ada lagi karena bagian akson saraf mata tidak lagi dapat beregenerasi,” kata Kasubdep Mata RS Putri Hijau Medan Mayor CKM dr Yudhi Dorandes, saat menyampaikan vonis penyakit Prada Gilang.