Rumah Adat Sumatera Selatan, Filosofi Keseimbangan dan Jaga Kesucian Perempuan
Banyak etnis yang terlibat dalam pembangunan rumah limas, seperti etnis Melayu, Jawa, Islam hingga Tionghoa. Namun rumah adat Sumatera Selatan yang dibangun di masa Kesultanan Palembang Darussalam tersebut, juga sarat akan nilai-nilai budaya Islam. Seperti atap rumah menyerupai tanduk kambing atau biasa disebut simbar.
"Ada dua simbar yang melambangkan Adam dan Hawa, tiga simbar berarti matahari, bulan dan bintang, lalu empat simbar berarti empat sahabat nabi, lima simbar mengisyaratkan jumlah rukun Islam dan enam simbar menyimbolkan jumlah rukun iman. Sedangkan di setiap sisi atap Rumah Limas mempunyai kemiringan yang sama yaitu 40-60 derajat," ucapnya.
Tiang-tiang kokoh yang menyangga bagian bawah rumah limas pun menggambarkan bagaimana hunian ini beradaftasi dengan kontur daerah Palembang. Di masa lalu, hingga 75 persen kawasan Palembang merupakan rawa atau perairan.
Fungsi tiang yang berbahan kayu tembesu ini sendiri, agar bisa dibangun di atas rawa-rawa dan bisa terhindar dari aktifitas binatang buas serta banjir.
Keunikan rumah limas tak berhenti di situ saja. Di dalam rumah limas, ada berbagai tingkatan yang juga sarat akan filosofi kehidupan.