Kehidupan Politik Kerajaan Sriwijaya Menganut Sistem Kadatuan
Pada tingkatan paling terbawah ada beberapa golongan besar termasuk para pegawai Kadatuan, seperti murdhaka (penghulu), tuhanwatakwurah (koordinator perdagangan dan pertukangan), adhyaksa nicayarna (jaksa), kumaramatya (menteri tetapi ia bukan kerabat dari bangsawan) dan juga para prefisonal (arsitek, juru tulis, kapten kapal, pedagang, pande besi, tukang cuci, dan hamba Datu).
Semua jabatan itu tertulis dalam prasastu Telaga Batu, dan mereka merupakan yang disumpah oleh Datu Sriwijaya agar mereka tetap setia dan tidak akan melakukan pemberontakan.
Semasa perkembangannya, kekuasaan Kerajaan Sriwijaya pada awalnya bermula di Palembang kemudian mulai berkembang ke daerah-daerah di sekitarnya. Adanya bukti tentang perluasan Sriwijaya ini tertulis pada prasasti Sriwijaya yang ditemukan pada daerah-daerah perluasan tersebut. Dari penemuan para prasasti yang ditemukan tersebut sebagian besar berisi mengenai kutukan-kutukan yang ditujukan kepada orang yang memberontak pada kedatuan.
Hingga pada akhirnya, telah diketahui bahwa Palembang adalah pusat dari kedatuan. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya prasasti yang ditemukan serta susunan kutukan dalam prasasti. Palembang merupakan daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam juga memiliki kondisi geografis yang dinilai paling menguntungkan bagi Kedatuan Sriwijaya.
Sedangkan pada daerah penemuan prasasti yang berada di luar Palembang merupakan sebuah daerah hinterland, yaitu daerah yang kekayaan alamnya digunakan sebagai komoditas bagi Kadatuan di Sriwijaya.
Itulah penjelasan mengenai sistem politik kadatuan dalam kehidupan politik kerajaan Sriwijaya.
Editor: Berli Zulkanedi