BI Optimistis Laju Inflasi Sumsel 2021 Masih Terkendali
Inflasi pada bulan Februari tersebut juga diperkirakan berasal dari potensi kenaikan bahan makanan seperti daging sapi dan aneka cabai yang terus menunjukkan tren kenaikan karena meningkatnya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
"Selain itu, kenaikan komoditas rokok dan besi beton juga mendorong laju inflasi. Namun tekanan inflasi tertahan oleh terjaganya pasokan komoditas bawang merah dan beras," ujarnya.
Saat ini, lanjutnya, kegiatan pengendalian inflasi masih terus dilanjutkan dengan berpedoman pada strategi pengendalian 4K yakni pemantauan ketersediaan pasokan yang dilakukan melalui program penjajakan kerjasama sebagai tindaklanjut pembentukan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pangan serta berkoordinasi dengan provinsi Bengkulu untuk inisiasi Kerjasma Antar Daerah (KAD).
Pemantauan keterjangkauan harga melalui monitoring harga komoditas pangan secara harian serta menyusun rencana sidak pasar. Lalu, memastikan kelancaran distribusi yang dilakukan dengan memprioritaskan angkutan untuk komoditas bahan pangan dan bahan pokok penting. Kemudian, komunikasi yang efektif melalui koordinasi secara berkala di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota.
Diprediksi, inflasi Sumsel secara keseluruhan di tahun 2021 ini masih terkendali. Tekanan inflasi masih tetap terjadi yang bersumber dari mulai pulihnya permintaan masyarakat dan penyediaan jasa makan minum seiring relaksasi aktivitas ekonomi dan telah ditemukannya vaksin covid-19 di tengah ketersediaan pasokan yang terjaga seiring masuknya musim panen beberapa komoditas holtikultura.
"Kedepan TPID Sumsel bersama satgas pllakan terus memperkuat koordinasi kebijakan agar menjaga inflasi tetap stab. Hal itu ditujukan untuk menjaga kecukupan pasokan bahan pangan strategis dan mengantisipasi resiko inflasi pangan dari adanya gangguan produksi, terutama potensi meningkatnya curah hujan karena fenomena La Nina," katanya.
Editor: Berli Zulkanedi