Biografi Tuanku Imam Bonjol dan Sejarah Perjuangan Perang Padri 1803-1838
Gubernur Jenderal Johannes Van Den Bosch, kemudian mereka membuat taktik untuk mengadakan perjanjian masang dengan Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai pada 1824. Namun,
memasuki 1825, Belanda kembali mengajukan perjanjian damai.
Perjanjian itu tentang Belanda mengakui kekuasaan-kekuasaan tuanku-tuanku di Lintau, IV Koto, Telawas dan Agam. Sayangnya, perjanjian itu membuat kecewa para kaum Adat.
Mereka menganggap Belanda tidak menepati janji dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi negaranya. Kemudian perang berubah, kaum adat dan kaum Padri bersatu dengan dibuatnya plakat Puncak Pato di Tabek Patah.
Mereka pun bersatu untuk melawan Belanda karena kenyataanya keberadaan mereka justru membuat sengsara rakyat Minangkabau. Tahun 1834, kekuatan Belanda mulai berfokus untuk menguasai wilayah Bonjol. Hingga akhirnya pada tahun 1835, pasukan Padri mengalami kesulitan dan terpaksa dipukul mundur.
Pada 10 Agustus 1837, Tuanku Imam Bonjol bersedia untuk berunding dengan Belanda. Namun, usaha perundingan itu justru mengalami kegagalan lalu memicu terjadinya peperangan lagi.
Setelah itu, Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Ambon pada 1839 dan kemudian ke Minahasa hingga akhir perjuangan dari Tuanku Imam Bonjol untuk mempertahankan Tanah Air.
Tuanku Imam Bonjol, wafat pada 8 November 1864 di usia 92 tahun dan dimakamkan di Desa Lota Pineleng.
Itulah penjelasan mengenai Biografi Tuanku Imam Bonjol dan sejarah perjuangannya ketika Perang Padri tahun 1803-1838.
Editor: Kurnia Illahi