Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende NTT, Mengenang Kota Pancasila
Oleh karena itu, rumusan ini kemudian menjadi Pancasila yang berlaku dan tertuang dalam satu alinea berupa bentuk UUD 1945 alinea IV. Bung Karno mengatakan hanya menggali dari tanah dan tradisi Nusantara itu sendiri. “Dan Sukarno menemukan lima butir mutiara yang indah”.
Guna mengenang kehadiran Soekarno di Ende dan merayakan hari lahir Pancasila, patung Bung Karno saat ini berdiri untuk menyampaikan semangat Nasionalisme kepada Bangsa Indonesia.
Sejak tahun 1980-an Pohon Sukun itu berganti nama menjadi pohon Pancasila. Pohon aslinya sudah mati tahun 1970-an dan pemerintah setempat mengganti dengan menanam anakan pohon yang sama di lokasi yang sama. Soekarno mengobarkan semangat juangnya memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajah dan berhasil melakukan kegiatan politiknya di Ende yang dikenal sebagai Pancasila.
Lima dasar negara hasil perenungan di Ende disampaikan Soekarno dalam pidato Sidang Badan Persiapan Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945. Tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai hari kelahiran Pancasila.
Kemudian, tahun 1951 Presiden pertama Indonesia kembali mengunjungi Ende. Saat itu beliau bertemu dengan Haji Abdullah Ambuwaru dan memberitahu bahwa ia akan mengubah rumah pengasingannya menjadi museum. Dalam kunjungan keduanya pada 16 Mei 1954, Bung Karno akhirnya meresmikan rumah tersebut sebagai gedung museum.
Nah, itulah rumah pengasingan Bung Karno di Ende NTT hingga disebut sebagai Kota Pancasila.
Editor: Cahya Sumirat