Peristiwa Merah Putih di Manado, Kisah Heroik Rakyat Sulawesi Utara Pertahankan Kemerdekaan
Namun kedatangan tentara sekutu bersama NICA pada awal Oktober 1945 di Sulawesi Utara membawa suasana rakyat kembali ricuh. Belanda menginginkan kekuasaan sepenuhnya atas Sulawesi Utara, terutama Manado. Namun rakyat Manado menolak dan memilih untuk melawan. Kemudian serangan dari sekutu dan Belanda membuat Manado dan sekitarnya kembali diduduki tentara Belanda.
BW Lapian salah satu tokoh politisi yang ikut berperan dalam peristiwa merah putih di Manado bersama Ch Ch Taulu dan SD Wuisan menjadi dua tokoh utama pemimpin pergerakan peristiwa heroik Merah Putih 14 Februari 1946.
Letnan Kolonel Charles Choesj Taulu, seorang pemimpin di kalangan militer bersama Sersan SD Wuisan menggerakkan pasukannya dan para pejuang rakyat untuk ikut mengambil alih markas pusat militer Belanda. Rencana tersebut telah disusun sejak tanggal 7 Februari 1946 dan mereka mendapatkan bantuan seorang politisi dari kalangan sipil bernama Bernard Wilhelm Lapian.
Puncak penyerbuan terjadi pada tanggal 14 Februari, namun sebelum penyerbuan terlaksana, para pimpinan pasukan tertangkap tentara Belanda termasuk Charles C Taulu dan SD Wuisan.
Akibatnya pemberontakan ke tangsi militer Belanda dialihtugaskan kepada komando Mambi Runtukahu yang memimpin anggota KNIL dari orang Minahasa. Bersama rakyat Manado mereka berhasil membebaskan Charlis Choesj Taulu, Wim Tamburian serta beberapa pimpinan lainnya yang ditawan.