Mengenang Salahuddin bin Talabuddin, Pejuang Kemerdekaan hingga Pahlawan Nasional
Namun, keluarga keturunan H Salahuddin bin Talabuddin saat itu menolak kakek mereka dijadikan pahlawan nasional karena Hi Salahuddin bin Talabuddin sosok yang sederhana dan rendah hati serta tidak pernah menginginkan balasan dalam bentuk apa pun terkait dengan semua yang dilakukannya, terutama dalam melawan kolonial Belanda.
Akan tetapi, ketika Edi Langkara yang satu kampung dengan H Salahuddin bin Talabuddin dipercayakan menjadi Bupati Halmahera Tengah memberikan pemahaman kepada keluarga tokoh pejuang itu, akhirnya seluruh keluarga H Salahuddin bin Talabuddin mendukung untuk diusulkan menjadi pahlawan nasional.
Sesuai catatan sejarah, H Salahuddin bin Talabuddin yang lahir di Gemia, Patani, Halmahera Tengah, tahun 1874 melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda ketika menjadi anggota Serikat Islam Merah, pecahan dari Serikat Islam HOS Tjokroaminoto di Jakarta.
Seperti hasil riset sejarahwan dari Universitas Khairun Ternate, Irfan Ahmad, Salahuddin Bin Talabudin merupakan tokoh pergerakan. Dia harus merasakan penjara selama lima tahun di Sawahlunto, Sumatera Barat pada tahun 1918 hingga 1923 dan Nusakambangan di Jawa Tengah pada 1941 hingga 1942 serta Bovel Digoel di Papua pada 1943.
Dengan pergerakan yang dilakukannya, sehingga ada tindakan tegas Belanda. Kolonial menangkap dan memenjarakan setiap orang pribumi yang menyuarakan perlawanan. Tapi itu tidak menciutkan nyali H Salahuddin bin Talabuddin untuk terus menyuarakan perlawanan kepada bangsa penjajah karena dianggapnya telah mengakibatkan penderitaan panjang masyarakat Indonesia, termasuk di daerah asalnya di Maluku Utara.