Fakta di Balik Bentrok 2 Desa di Halmahera Tengah, Ini Kata Kapolda Maluku Utara
“Seharusnya, jika konflik ini dilatarbelakangi SARA, sangat mudah bagi pelaku untuk membedakan rumah mana yang berpenghuni Nasrani dan Muslim. Namun kenyataannya, penyerangan tersebut dilakukan tanpa membedakan agama korban,” katanya.
Polda Maluku Utara mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya, terutama yang beredar di media sosial.
Warga diminta tetap tenang dan mempercayakan penanganan konflik kepada aparat penegak hukum.
“Diharapkan semua pihak berkomitmen untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif, serta mendukung proses hukum terhadap pelaku maupun penyebar hoaks,” ujarnya.
Polda Malut juga mengapresiasi peran berbagai pihak yang turut membantu penanganan konflik. Di antaranya Danrem 152 Babullah Brigjen TNI Enoh Solehudin, Dandim 1512 Weda Letkol Inf Fachrozie Fanani, Bupati Halmahera Tengah Ikram Malan Sangadji, serta tokoh masyarakat setempat.
Polisi memastikan seluruh proses hukum dalam kasus ini akan berjalan secara profesional, transparan, dan berkeadilan.
Editor: Donald Karouw