Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Wow! 7 Ilmuwan Undip Masuk Daftar 2 Persen Paling Berpengaruh di Dunia Versi Stanford-Elsevier
Advertisement . Scroll to see content

Covid-19 Varian Lambda Dipercaya Paling Berbahaya, Ini Penjelasannya

Sabtu, 31 Juli 2021 - 13:13:00 WIB
Covid-19 Varian Lambda Dipercaya Paling Berbahaya, Ini Penjelasannya
Ilustrasi Covid-19 varian Lambda. (Foto: Ist)
Advertisement . Scroll to see content

Sebuah studi baru-baru ini yang dilakukan di Cile menunjukkan bahwa sekitar 60 persen penduduk negara itu telah menerima setidaknya satu dosis vaksin corona. Dengan kata lain, tingkat vaksinasi di Cile terbilang sangat tinggi.

Akan tetapi, selama musim semi 2021, terjadi lonjakan cepat dalam pertambahan kasus Covid-19 yang diamati di Cile. Penyebabnya adalah, varian lambda mampu lolos dari respons imun yang diinduksi melalui vaksinasi.

Studi baru yang dirilis bioRxiv menggunakan analisis filogenetik molekuler untuk mempelajari sifat evolusi varian lambda. Para peneliti dalam riset tersebut telah mengindikasikan dua fitur virologi penting dari varian lambda, yakni resistensinya terhadap tanggapan kekebalan yang diinduksi vaksinasi dan; peningkatan dalam tingkat penularan.

Meskipun varian lambda telanjur diklasifikasikan sebagai VOI, para peneliti telah menyoroti potensi varian tersebut untuk menyebabkan epidemi di masa depan. Sementara sampai saat ini, Covid varian delta masih dianggap paling berbahaya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) pada minggu ini menggambarkan varian delta sama menularnya dengan cacar air. Varian asal India itu juga dapat menyebabkan penyakit parah, demikian New York Times melaporkan, mengutip dokumen internal CDC. Varian delta juga lebih mungkin untuk menembus perlindungan yang diberikan oleh vaksin.

Namun, data CDC menunjukkan, vaksin ternyata masih sangat efektif mencegah penyakit serius, potensi pasien untuk rawat inap, dan kematian pada orang-orang yang sudah divaksinasi. Penelitian baru menunjukkan, orang yang sudah divaksinasi dan kemudian terinfeksi varian delta, membawa sejumlah besar virus di hidung dan tenggorokan, kata Direktur CDC Rochelle Walensky kepada Times.

Editor: Nani Suherni

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut