Covid-19 Varian Lambda Dipercaya Paling Berbahaya, Ini Penjelasannya
Dalam laporannya pada pertengahan Juni lalu, WHO melaporkan, varian lambda dikaitkan dengan tingkat substantif penularan komunitas di beberapa negara. Dengan peningkatan prevalensi dari waktu ke waktu bersamaan dengan peningkatan insiden Covid-19. Menurut badan PBB itu, masih dibutuhkan lebih banyak penelitian terhadap varian tersebut.
Pada 15 Juni itu, WHO mencatat, varian lambda telah terdeteksi di 29 negara atau area di lima wilayah WHO, meskipun kehadirannya lebih menonjol di Amerika Selatan.
“Pihak berwenang di Peru melaporkan bahwa 81 persen kasus Covid-19 yang diurutkan sejak April 2021 dikaitkan dengan lambda. Argentina melaporkan peningkatan prevalensi lambda sejak minggu ketiga Februari 2021, dan antara 2 April dan 19 Mei 2021, varian tersebut menyumbang 37 persen dari kasus Covid-19 yang diurutkan,” demikian catatan WHO kala itu, seperti dikutip kembali Alarabiyah.
WHO dan berbagai lembaga kesehatan masyarakat lainnya mencoba memahami bagaimana cara kerja varian lambda menginfeksi orang, dibandingkan dengan jenis-jenis virus lainnya. Peneliti juga mencari tahu, apakah varian tersebut lebih menular dan lebih kebal terhadap vaksin.
Pada pertengahan Juni, WHO mengatakan, Covid-19 varian lambda membawa sejumlah mutasi dengan dugaan implikasi fenotipik, seperti potensi peningkatan penularan atau kemungkinan peningkatan resistensi terhadap antibodi penetralisasi.