Tradisi Jemur Gabah di Jalan Aspal Panas Magetan, Kearifan Lokal yang Masih Bertahan
Sebab, mereka butuh secepatnya mengambil untung dari hasil padi yang mereka tanam. Apalagi, harga jual gabah kering jauh lebih tinggi dibanding gabah basah yang baru mereka bawa pulang dari sawah.
2. Tak Punya Lahan Luas
Mengeringkan gabah dengan cara konvensional sejatinya bisa dilakukan di halaman rumah yang luas. Namun, umumnya, halaman rumah warga di Magetan masih berupa tanah. Bukan cor atau beton, layaknya lahan di tempat penggilingan padi.
Karena itu, untuk tetap bisa mengeringka gabah di halaman harus menggunakan alas berupa terpal atas anyaman bambu. Hanya saja, suhunya tak sepanas di jalan aspal.
Selain itu, halaman rumah di Magetan umumnya masih terdapat pepohonan yang rimbun, sehingga menutup sinar matahari. Karena itu, pilihan satu-satunya hanyalah jalanan aspal di depan rumah mereka.
3. Kearifan Lokal
Menjemur gabah di jalan aspal yang panas sudah berlangsung turun temurun di wilayah Magetan. Cara unik ini juga telah menjadi tradisi kearifan lokal masyarakat setempat.
Maka jangan heran bila musim panen tiba, jalanan aspal di Magetan berganti menjadi hamparan padi. Anda tak perlu khawatir untuk melintas, sekalipun menggunakan motor atau mobil.
Sebab, masyarakat setempat tidak akan marah. Mereka sadar bahwa cara menjemur gabah tersebut mengganggu lalu lintas, sehingga rela jemuran gabahnya dilindas.
Editor: Ihya Ulumuddin