3 Cara Ini Dilakukan Pemprov Jatim untuk Tekan Angka Kematian Covid-19
Kedua, pengaturan rumah sakit rujukan. Menurut emil, rumah sakit ini harus punya banyak space, sehingga bisa menanangi pasien dengan penyakit bawaan yang berisiko, seperti diabetes, hipertensi, dan ganguan jantung.
Ketiga, tata laksana, yakni penanganan lebih lanjut bagi pasien Covid-19. Misalnya, kapan mereka harus memakai ventilator serta model pengobatannya.
“Karena itu, beberapa waktu lalu Ibu gubernur mendirikan RS Darurat dengan kapasitas 500 bed. Tujuannya, pasien Covid-19 yang ringan atau sedang bisa dirawat di sana. Bukan langsung ke rumah sakit rujukan,” katanya.
Sementara pengamat kesehatan Universitas Airlangga (Unair) Atik Choirul Hidajah mengatakan, jumlah angka kematian Covid-19 di Jatim tinggi karena rasio pasien berisiko di Jatim cukup tinggi, terutama di Kota Surabaya.
“Case fatality rate (CFR) berkisar 8-9 persen. Ini tinggi sekali. Ini terjadi karena banyak hal, antara lain pasien covid-19 yang berusia lanjut lebih besar. Selain itu juga karena ada penyakit bawaan. Angkanya cukup besar,” katanya.
Diketahui Webinar iNews ini menghadikan empat pembicara, antara lain Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak; Pengamat Kesehatan Unair, Atik Choirul Hidajah; Wali Kota Malang, Sutiaji; serta Pengamat Sosial Universitas Brawijaya, Rahmat Kriyantono.
Editor: Ihya Ulumuddin