Perjalanan Gatot Iskandar, Remaja asal Kediri Jadi Kurir Kemerdekaan di Pulau Sumatra
Kabar itu disambut gembira. Banyak yang ingin tahu lebih jauh situasi Pulau Jawa. Banyak penduduk Sumatra yang belum mengetahui Indonesia sudah merdeka. Di Medan, rakyat bergerak lebih progressif. Para pemuda merampas senjata tentara Jepang dan membentuk Tentara Rakyat. Revolusi sosial digerakkan. Kaum bangsawan serta ambtenar yang dulu pro Belanda mulai dipersempit ruang geraknya.
Belanda mengimbangi dengan membentuk Poh An Tui, pasukan keamanan bersenjata yang terdiri atas orang-orang Tionghoa. Medan tidak aman. Kontak senjata berlangsung di mana-mana. Banyak penduduk yang mengungsi ke Pematangsiantar. Kedatangan pemuda Jawa yang membawa kabar Indonesia merdeka membuat para pejuang Tentara Rakyat semakin bersemangat. Dengan cepat kabar tersebut menjalar ke mana-mana.
Saat di Medan, Bonggar menyempatkan pulang ke kampung kelahirannya di Tapanuli dan tidak kembali. Suroso sendirian. Pemuda Madiun itu menunggu kedatangan Gatot Iskandar dan Hamid yang masih melakukan tugasnya di Sumatra Barat. Sementara tiga hari di Muara Bungo, Gatot dan Hamid melanjutkan jalan ke Sawahlunto. Di setiap kesempatan apapun, di depan warga setempat, mereka selalu bercerita Proklamasi Kemerdekaan.
Bercerita tentang situasi Jawa dan Indonesia yang sudah merdeka. Dari Sawahlunto perjalanan menyambung ke Bukittinggi. Gatot dan Hamid juga bertemu dengan Djamaluddin Adinegoro. Gatot sempat dibawa ke atas panggung. Di depan massa pemuda Bukittinggi, dia berpidato tentang Proklamasi Kemerdekaan. Pemuda asal Kediri itu juga berseru kepada massa untuk bersatu padu melawan Belanda yang kembali datang bersama Sekutu. Di Bukittinggi Hamid menyempatkan pulang ke kampung halamannya.
Seperti Bonggar. Hamid juga tidak kembali. Gatot praktis melakukan kerja-kerja perjuangan seorang diri. Seluruh tokoh-tokoh penting di daerah setempat ia datangi. Di Batangtoru. Di Sibolga. Di Tarutung. Sesuai tugasnya, Gatot mengabarkan Proklamasi Kemerdekaan telah dikumandangkan. Dari Balige, Gatot Iskandar seorang diri menempuh perjalanan menuju Medan. Tiba di Medan, Gatot kembali bertemu Suroso.