Pelukan Terakhir Korban Bom Surabaya untuk Putranya Sebelum Meninggal
SURABAYA, iNews.id – Isak tangis mengiringi pemakaman Catur Giri Sungkowo (47), korban ledakan bom bunuh diri di kawasan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), di Makam Umum Gunung Sari Surabaya, Sabtu (19/5/2018). Anak dan kakak korban pingsan, tak kuasa melihat jenazah Catur dimasukkan ke liang lahat di Pemakaman Umum Gunung Sari Surabaya.
Meskipun berat, keluarga mencoba ikhlas dengan kematian Catur. Satpam GPPS itu meninggal dunia pada Jumat (18/5/2018), setelah sempat dirawat di RSUD dr Soetomo Surabaya.
Putranya, Marvel Putra Hasinta Casa (20), mengatakan, dia tidak mempunyai firasat dan tak menyangka dengan kepergian ayahnya karena kejadian nahas ketika bekerja. Namun, sebelum kejadian, ayahnya sempat memeluk dirinya. Dia tidak menyangka itu akan menjadi pelukan terakhir sang ayah untuknya.
“Tidak ada firasat sama sekali. Kata mama waktu saya tidur pas mau berangkat kerja sempat meluk saya,” ujar Marvel yang ditemui di rumah duka di di Jalan Pulosari III M No 3 Surabaya.
Marvel mengaku baru mengetahui ayahnya menjadi salah satu korban bom bunuh diri saat orang-orang perwakilan Gereja GPPS Arjuno datang ke rumahnya untuk menyampaikan kabar itu.
“Orang gereja datang, terus tanya ayah di mana. Mama bilang belum pulang. Ditelepon nggak dijawab. Trus orang gereja bilang kalau ayah belum ketemu. Saya langsung bangun mandi cari ayah ke gereja,” kata Marvel.
Di mata Marvel, ayahnya merupakan sosok yang penyabar dan baik. Bahkan ada satu kebiasaan yang akan sulit dia lupakan, yakni kebiasaan makan bersama sang ayah. “Kami biasanya kalau pas makan sering disuapin mama, jadi saya sama ayah disuapin mama,” ujar Marvel.
Sama seperti Marvel, kakak korban, Eko Raharjo juga tidak mempunyai firasat apapun. Dia pun mengaku hingga saat ini belum ikhlas ditinggal adiknya. Namun, dia berusaha. “Saya sebetulnya nggak ikhlas, lihat organ tubuhnya jadi nggak berfungsi, 95 persen luka bakar,” ujar Eko.
Dia bercerita pertemuan terakhir dengan Giri sebelum kejadian adalah saat pergi ke Nganjuk. “Terakhir minggu lalu pergi ke Nganjuk jenguk saudara. Pas pengeboman nggak nyangka, pertamanya dikira gereja depan tempat kerja adik saya, nggak nyangka,” tuturnya.
Namun, sebelum meninggal, almarhum ternyata sudah berpamitan kepada teman-temannya. “Wis yo pisah yo (sudah ya pisah ya) bilang ke teman-temannya,” ujar Eko menirukan ucapan adiknya.
Menurut keluarga Giri, pria yang sudah bekerja selama 25 tahun di GPPS Arjuno tersebut merupakan sosok pendiam dan baik. “Saya percaya adik saya mati syahid, soalnya pas lagi kerja, apalagi pas menghalau teroris,” katanya.
Saat ledakan bom bunuh diri, Catur Giri tengah bertugas menjaga keamanan di pintu masuk dan mengawasi parkir di depan gereja. Pascakejadian, korban dirawat di RSUD dr Soetomo Surabaya. Dia mengalami luka bakar 98 persen dan koma selama enam hari di ruang ICU.
Editor: Maria Christina