Panen Perdana Jagung Bioteknologi di Jember, Hasilnya Bikin Petani Untung Ganda
Petani paruh baya itu juga mengaku, budidaya jagung jenis ini lebih muda karena toleran terhadap glifosat, sehingga rumput tidak gampang tumbuh. Otomatis, pupuk yang diaplikasikan oleh petani terserap tanaman semua dan hasilnya lebih subur.
“Kami juga tidak perlu menggunakan insektisida lagi untuk mengendalikan ulat atau hama penggerek batang. Jadi lebih ekonomis, karena petani tidak usah mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli obat,” urainya.
Rektor Universitas Jember Iwan Taruna menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya, hasil penelitian yang baik adalah hasil penelitian yang bisa dihilirkan dan bermanfaat langsung bagi masyarakat dan dunia industri.
Dirinya juga berharap, demplot benih jagung di Agrotechnopark Jubung ini bisa dimanfaatkan sebagai wahana belajar dan konsultasi oleh petani Jember. Agar tidak ketinggalan informasi dan teknologi terkini. Selain playground bagi dosen dan mahasiswa.
“Proses untuk melahirkan inovasi seperti di bidang bioteknologi itu prosesnya panjang dan memerlukan biaya yang besar. Maka, kata kuncinya adalah kolaborasi antara semua pemangku kepentingan. Mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, swasta dan masyarakat,” pungkasnya.
Editor: Mahrus Sholih