Panen Perdana Jagung Bioteknologi di Jember, Hasilnya Bikin Petani Untung Ganda
“Agrotechnopark Universitas Jember menjadi lokasi pertama di Indonesia yang menjadi lokasi penanaman benih jagung bioteknologi terbaru kami. Kami memilih bekerja sama dengan Universitas Jember karena sudah memiliki rekam jejak penelitian bioteknologi di Indonesia,” ujarnya.
Seed Business Head Syngenta Indonesia Fauzi Tubat menambahkan, karena produktivitas 10 persen lebih tinggi dibandingkan jagung hibrida konvensional, maka bila ditanam secara luas di Indonesia, varietas ini dapat mendongkrak panen jagung dari rata-rata nasional 5,3 ton/ha menjadi sekitar 7 ton/ha.
Varietas jagung hibrida bioteknologi NK Pendekar Sakti ini memiliki potensi hasil hingga 11,8 ton/ha pipilan kering. “Varietas unggul ini dapat membantu petani menekan ongkos produksi, meningkatkan kualitas hasil panen dan menjadikan budidaya jagung lebih mudah dan nyaman,” tuturnya.
Hamdani, petani jagung asal Dusun Krajan Kulon, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wuluhan, Jember, mengungkapkan hal serupa. Dia mengungkapkan, selain di area Agrotechnopark Universitas Jember Desa Jubung, juga ada dua lahan demplot lainnya. Di wilayah Kecamatan Gumukmas dan Wuluhan.
Di Kecamatan Wuluhan, dia menyebut, hasil panennya hampir mencapai 12 ton pipilan kering. “Harga per ton untuk saat ini Rp 5,8 juta. Jika dihitung satu hektare, petani bisa mendapatkan lebih dari Rp 60 juta per hektare. Ini sangat menguntungkan,” tuturnya.