Musibah Kecelakaan dan Kisah Mistis Alas Jati Peteng Tuban
Kisah lain diceritakan oleh tukang ojek yang mangkal di pangkalan perempatan Alas Jati Peteng, Sanuri. Warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban ini sering mendengar cerita-cerita mistis yang menyelimuti alas jati peteng.
Dia mengisahkan bahwa pangkalan ojek tempatnya mangkal saat ini memang di kenal angker. Karenanya saat malam hari tidak ada orang yang berani berhenti atau bagkan sekadar duduk-duduk di pangkalan ojek tersebut.
Dia juga menyebut, di perempatan yang lokasinya di tengah-tengah Alas Jati Peteng itu juga sering terjadi kecelakaan yang menelan korban jiwa. Dugaan, kawasan tersebut sering meminta tumbal nyawa orang.
Di kawasan itu, Sunari juga sering mendengar makhluk-makhluk gaib yang jika muncul, maka tak lama kemudian akan ada malapetaka, salah satunya kecelakaan. "Di sini paling rawan. Dulu banyak begal. Disini tempat pembuangan mayat. Pas di sini ini banyak jin, gawat disini," ujarnya.
Senada dengan Sunari, kisah mistis Alas Jati Peteng juga di ceritakan oleh Tamam, seorang penjual es tebu yang lapaknya tak jauh dari pangkalan ojek perempatan Alas Jati Peteng.
Suatu ketika, ada seorang sopir truk yang bercerita kepadanya bahwa pada suatu sore menjelang magrib ada seorang nenek-nenek yang minta tumpangan dan menghentikan truknya di sebuah jembatan dekat pangkalan ojek.
Detelah diberi tumpangan, nenek tersebut memberi pesan bahwa jika melintas di jembatan dekat pangkalan ojek tersebut hendaknya sopir truk itu membunyikan klakson. Sebab, cucunya sering bermain-main di pinggir jalan ketika menjelang maghrib. Tujuannya agar tidak tertabrak truk.
Setelah memberi pesan itu, nenek tersebut meminta turun di Jembatan Kalibele yang juga dikenal angker. "Nenek itu meminta tumpangan tak lama atau tak jauh. Karena lokasi pangkalan ojek dengan Jembatan Kalibele sekitar 1,5 kilometer. Setelah sang nenek turun nenek tersebut langsung menghilang," katanya.
Sopir truk tersebut akhirnya percaya bahwa di kawasan alas jati peteng memang dihuni banyak makhluk halus. Pada saat melintas di jembatan dekat pangkalan ojek itu sang sopir akhirnya selalu membunyikan klakson.
Hal lain juga pernah didengar oleh Tamam, bahwa suatu ketika ada sopir truk yang mengisahkan bahwa jalan di dekat pangkalan ojek itu bercabang. Suatu ketika saat tengah malam, tiba-tiba ada truk yang masuk ke dalam sungai.
Penuturan sang sopir bahwa jalan yang dia lewati benar dan dia mengemudikan truk dalam keadaan sadar dan tak mengantuk. Namun, entah mengapa ternyata truk tersebut ternyata tidak melewati jalan yang sesungguhnya, tetapi malah masuk sungai tak jauh dari jembatan pangkalan ojek.
Penjual es tebu yang sudah empat tahun berjualan di pangkalan ojek ini juga bercerita tentang kisah yang dia alami sendiri. Suatu malam dia dikejar-kejar orang banyak, lalu lari ke tengah alas jati peteng dan ternyata di tengah-tengah alas jati peteng itu ada pasar dan kodisinya ramai sekali. Dia pun ditolong oleh seseorang yang dia kenal lalu orang-orang tersebut berhenti mengejarnya.
Ada juga warga yang sedang mencari rumput, namun secara tidak sengaja ternyata sabitnya malah mengenai leher seekor angsa hingga angsa tersebut mati. Malam harinya tetangganya itu bermimpi didatangi makhluk halus yang meminta ganti rugi dan mengatakan bahwa nyawa harus di tukar dengan nyawa.

Di siang harinya, tetangganya itu akhirnya mengganti angsa yang tak sengaja dia bunuh saat mencari rumput ditengah alas jati peteng agar selamat dan terhindar dari malapetaka yang mengancam.
Kisah lain juga diceritakan oleh pemilik warung yang lokasinya di pojokan perempatan Alas Jati Peteng, Sumaji. Dia menyebut seringnya terjadi kecelakaan karena ada perempuan misterius yang menyeberang jalan. Saat itu pengendara menghindar, tetapi justru terjadi kecelakaan.
Kisah lain yang di alami sumaji sendiri yani dua tahun lalu. Saat itu ada pemudik dari jakarta naik motor. Karena lelah dia ingin istirahat di alas jati peteng. Pemuda itu melihat seperti ada warung. Namun setelah didekati ternyata Pos Perhutani.
Setelah itu, dia pun menyandarkan motornya di Pos Perhutani tersebut dan tak jauh dari pos itu dia melihat sebuah warung. Dia mendatangi warung tersebut lalu memesan makanan kepada nenek tua pemilik warung.