MUI Jatim Serukan kepada Umat Islam agar Ucapan Salam Pembuka Semua Agama Tak Dicampur
Kiai Abdussomad menjelaskan, salam adalah doa dan doa adalah ibadah. Tetapi, agama tidak boleh dicampur aduk. “Agama itu pada dasarnya ekslusif. Keyakinan itu sistem. Agama itu sistem keyakinan yang punya sistem ibadah sendiri-sendiri,” katanya.
Dia mencontohkan, ketika umat Islam mengucapkan salam ‘Assalamualaikum’, itu adalah doa. Maknanya semoga Allah SWT memberi keselamatan kepada kamu sekalian. “Itu adalah salam khusus bagi umat Islam,” ujarnya.
Abdussomad mengatakan, agama lain juga memiliki salam sendiri-sendiri. Hal itu juga berlaku untuk penganut agama masing-masing.
Dia juga mengatakan, salam pembuka dalam berbagai agama tersebut tidak bisa disebut sebagai bentuk toleransi. MUI Jatim menilai antarumat beragama harus saling menghormati dan menghargai, namun hal itu tidak berlaku bagi sebuah ibadah.
“Jadi, bukan berarti kalau orang salam nyebut semua (salam semua agama), itu wujud kerukunan. Itu justru perusak kepada ajaran agama tertentu,” katanya.
“Kerukunan itu misalanya kalau ada kebanjiran atau gempa, kita harus tolong menolong, ndak usah tanya agama. Kalau ada kecelakaan kita tolong ndak usah tanya agama. Kalau kita perkawinan, tanya agama karena agama mengatur perkawinan. Jangan semua agama boleh, karena itu merusak ajaran. Ini perlu didudukkan masalah ini,” katanya.
Editor: Maria Christina