Micko Tewas 2 Hari Jelang HUT ke-17, Keluarga Diselimuti Duka Mendalam
Cecep, paman korban mengungkapkan fakta mengejutkan terkait kematian Micko. Dia mengatakan, awalnya keberangkatan Micko ke Bantul, tidak diizinkan ibunya. Namun Micko berkeras dan tetap saja pergi. Saat itu, Mikro sempat beralasan, perjalanan ke Bantul akan menjadi bonek terakhir kalinya. Karena dirinya berencana akan serius belajar.
Namun, pihak keluarga tidak menyangka jika perkataan itu menjadi pertanda, sekaligus hal terakhir yang didengar keluarga. Meski mereka telah ikhlas melepaskan kepergian Micko untuk selamanya, namun diharapkan pihak kepolisian serius mengusut tuntas kasus kematian micko. Mereka berharap para pelaku menerima balasan sesuai dengan hukum yang berlaku.
“Kami akan menuntut. Tak mungkin kami sebagai keluarga hanya diam saja. Bisa lihat ditayangan video, dia sudah jatuh tapi masih dianiaya seperti itu,” kata Cecep, Minggu (15/4/2018).
Dia melanjutkan, Micko sudah memiliki rencana untuk merayakan HUT ke-17, namun yang terjadi justru hal seperti ini. Dia harus pergi selama-lamanya, setelah tewas mengenaskan, akibat dikeroyok warga. Sebelum mengembuskan napas terakhir, dia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun tak tertolong karena luka serius yang dialaminya.
Video pengeroyokan massa warga secara brutal yang terjadi di wilayah Solo, Jawa Tengah, menjadi viral di media sosial (medsos). Pada tayangan video pendek itu, tampak aksi pengeroyokan warga tanpa ampun terhadap dua warga yang merupakan seorang bonek. Mereka terkapar di samping sebuah truk hingga seorang di antaranya meregang nyawa secara tragis atas peristiwa tersebut.
Dia bahkan mendapat pukulan dari kayu dan lemparan batu berukuran dua kepalan tangan orang dewasa dari jarak dekat. Tanpa ampun warga menganiaya remaja tanggung tersebut. Bahkan saat kondisi tubuhnya sudah tak bergerak, sekumpuluan warga secara beringas masih saja menyerang secara brutal ke bagian kepala korban.
Editor: Donald Karouw