Kusni Kasdut, Pejuang Kemerdekaan yang Justru Dikenang sebagai Penjahat Besar
Dalam buku "Kusni Kasdut", Parakitri menulis, Kusni Kasdut memang bukan berasal dari Blitar. Juga bukan dari Malang. Kusni lahir di Desa Bayan Patikrejo Kabupaten Tulungagung. Sekitar 20 kilometer dari Kabupaten Blitar. Wonomejo, ayahnya bukan kepala desa.
Ayahnya seorang petani biasa. Sebelum menikahi Kastun dan memiliki anak Kusni Kasdut, Wonomejo sudah memiliki istri dengan delapan anak. Sementara Kastun sebelumnya merupakan istri adik kandung Wonomejo yang dari pernikahannnya dikaruniai satu anak perempuan yang diberi nama Kuntring.
Setelah suaminya meninggal, Kastun menjanda. Tidak berlangsung lama, istri Wonomejo juga meninggal. Diam-diam Wonomejo kemudian menikahi Kastun yang sebelumnya merupakan adik iparnya. Pernikahan yang disembunyikan itu yang membuat mereka digunjingkan warga. Apalagi, saat itu Kastun mengandung Kusni Kasdut.
Saat Kusni berumur enam tahun, Wonomejo meninggal dunia karena sakit. Bukan disiksa tentara Jepang. Sebelum pindah ke Malang, Kastun bersama Kusni kecil dan Kuntring kakak Kusni beda bapak, lebih dulu singgah di Desa Jatituri, Blitar. Di rumah teman Kastun yang sudah dianggap seperti saudara, Kuntring dititipkan.
Sementara Kusni dibawanya ke Malang. Untuk menyambung hidup, Kastun berjualan pecel di teras rumah kontrakan di Gang Jangkrik, Wetan Pasar. Sekitar bulan Oktober 1945. Rombongan Kusni Kasdut tiba di Surabaya. Rombongan pejuang dari Malang datang saat insiden penyobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, belum lama terjadi.