Kusni Kasdut, Pejuang Kemerdekaan yang Justru Dikenang sebagai Penjahat Besar
Saat itu namanya masih Kusni. Belum ada tambahan Kasdut di belakangnya. Kusni juga terlibat aksi pelucutan senjata tentara Jepang. Di Malang. Ia ikut memimpin penyerbuan gudang-gudang senjata. Menggasak amunisi sekaligus membagi bagikan ke sesama pejuang. Tidak terkecuali aset-aset vital. Kusni juga ikut merebut paksa.
Tentara Jepang yang mentalnya sudah ambruk karena kalah perang, ditawan. Yang nekat melawan, dengan terpaksa mereka habisi. Jelang akhir Oktober 1945. Surabaya yang kelak menjadi ibukota Jawa Timur, tengah bergolak. Inggris dengan NICA yang diboncengi tentara Belanda hendak menjajah kembali Indonesia melalui Surabaya.
Sejak September 1945 pasukan Inggris sudah masuk Semarang. Mendengar kabar itu, darah Kusni mendidih. Berbekal sepucuk bedil thomson rampasan, ditambah sebutir granat rakitan produksi Claket (Malang), serta semangat nasionalisme yang menyala-nyala, Kusni Kasdut bertolak ke Surabaya.
"Kusni dan rombongan naik kereta api menuju Surabaya. Sejak waktu masih di Rampal sampai dekat kota (Malang), suasana terus makin panas," kata Parakitri dalam buku "Kusni Kasdut".
Kusni Kasdut berasal dari Blitar. Begitu cerita yang terlanjur tersebar luas. Kelak saat diinterogasi aparat kepolisian Semarang, Jakarta dan Surabaya atas aksi kejahatan yang dilakukan, dia juga menyampaikan cerita serupa. Dia selalu mengaku lahir di Desa Jatituri, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar pada akhir tahun 1929.